PRESS RELEASE

"Sebuah album yang bisa menjadi pengobar semangat pemberontakan, bahan refleksi, media pembelajaran, sampai hiburan bagi orang-orang yang depresi" - DNK.id

"Suaranya yang sopran dan meliuk-liuk di atas fondasi bunyi-bunyian leluhurnya yang kuat" - Bonita Adi


[ID]

Nova Ruth Setyaningtyas akhirnya merilis album solo pertamanya. Setelah lama berproses dengan Filastine dan beberapa proyek Hip Hopnya, Nova merilis album yang diberi judul ‘Napak Tilas’ pada Malang Cassete Store Day 2019 bersama Barongsai Record. Antologi album ini berisi 10 lagu yang merupakan beberapa lagu baru dan juga gubahan dari lagu-lagu yang diciptakannya bersama Filastine.

Album Napak Tilas ini berisi perjalanan musik Nova dari hip hop hingga menemukan Jawa. Proses pembuatan album ini bersamaan pula dengan penemuan Nova akan 'Jawa' sebagai kata yang berarti 'baik'. Nova seperti diberi petunjuk, mulai dari pengenalan leluhurnya dari Sulawesi sampai tanah Jawa. Napak Tilas yang berarti perjalanan, merupakan hasil olah batin pengembaraannya hingga bertemu dengan jejak-jejak leluhur.

Proses produksi album ini dimulai pada Agustus tahun lalu. Saat itu Nova juga mulai diberikan dana hibah dari Cipta Media Kreasi. Penggarapannya pun dibuat sekitar 3 sesi karena ingin eksplorasi pada live recording, hingga Nova mencapai kepuasan rasa yang 'live' dalam album.

Sound engineer pada album ini adalah Bambang Iswanto, vokalis dari The Morning After, yang juga merekam ambience field recording demi mendukung rasa yang live tersebut. Dalam album ini, dari sisi musikalitas dan produksi, Nova Ruth dibantu oleh Grey Filastine, Sylvia Indriyani, Bambang Iswanto, Andre Toke', Pungky, Jessika Kenney, Toto Tewel, Vania Marisca, Kuro, dan Omen Monohero.

Nova sangat menyukai eksplorasi panggung sendiri karena sering latihan vokal untuk Filastine. Ia menemukan cara yang menyenangkan saat prosesi akustik hingga mendapat respon baik dari teman-teman terdekatnya. Seniman asal Malang ini pun lantas ingin membuat pendengarnya terpecah menjadi dua. Ketika Nova berduet bersama Filastine dan saat sendiri saja. Nova ingin melucuti elemen elektronik terutama frekuensi rendah demi memperdengarkan suara apa yang dihasilkan tanpa proses yang rumit.

Album ini tidak dapat dimasukkan ke semua genre, namun ada benang merahnya, yaitu kejujuran. Semua lagu ini Nova tulis secara momentum saat Ia melihat atau merasakan dengan harapan resonansinya dapat sampai ke kalbu para pendengar tanpa kerumitan kualitas teknik dan skill.

Pada albumnya ini, Nova membawakan lagu-lagu dengan bahasa Indonesia, Inggris, dan juga Jawa. Seperti lagu Wong Kang Murka dan Macapat Pangkur contohnya. Keberadaan lagu-lagu ini muncul karena keinginan untuk berdo'a dengan cara yang membuatnya lebih nyaman untuk melakukannya. Nova merasakan keindahan nada akan lagu itu dari yang Ia pelajari tanpa Ia sadari.

Memutuskan pulang adalah pilihan jitu yang dengan tegas dan sadar Nova pilih. Karena kondisi ekologi yang semakin genting, pemanasan global, dan juga banyak permasalahan di muka bumi lainnya. “Harapan saya, ingin menyebarkan kebaikan sambil menyuarkan suara alam yang tidak sabar untuk kembali disayang oleh manusianya, terutama di Indonesia, meskipun tidak dengan cara yang massive.”

Lagu: Hidupi Duniaku, Burung, Plong, Wong Kang Murka, Liminalitas, Kalamakara, Fenomena Surga, Di Antara Perbatasan, Debu Jalanan, dan Macapat Pangkur.

[EN]

"An album to fire rebellious spirits, tool of reflection, learning media, so is entertainment for those who's going through depression" - DNK.id

"Her soprano voice that dance on top of a strong ancestral sounds" - Bonita Adi

Nova Ruth Setyaningtyas finally released her first solo album. It has been years since she joined Filastine and few of her hip-hop project, Nova released an album, 'Napak Tilas' in Malang Cassette Store Day 2019 under Malang's record label, Barongsai Record. This album anthology has 10 songs that contains new songs and her acoustic version of the songs she sang with Filastine.

When you hear this album, what you will hear is her journey on finding her javanese soul. During the process of Napak Tilas, Nova found out that 'java' is beyond an island, but an adjective that means 'being good to others'. She explained about how her deepest heart showing her the way to get to know her Bugis and Javanese roots. The traces that left by her ancestors.

The recording was started since August last year after becoming one of the grantee of Cipta Media Kreasi. She repeated the recording process 3 times to explore the feeling of 'live' music rather than studio session.

She trusted her highschool friend, Bambang Iswanto, the vocalist of The Morning After that also willingly did field recording as the back sound according to the theme of the songs. From the musicality and production, this album is supported by her closest, Grey Filastine, Sylvia Indriyani, Bambang Iswanto, Andre Toke', Pungky, Jessika Kenney, Toto Tewel, Vania Marisca (Wake Up Iris!), Arie Wahyudi (Omen Monohero) and Octavianus Triangga (Kuro).

Nova found her way to enjoy herself practicing music while away from Filastine, which is playing music acoustically. Her surrounding found this enjoyable that made her listener divided into two. While she's performing with Filastine and when she plays solo. She then wanted to stripped the electronic music element and low frequencies to show her listener the simplicity of her music.

It's not easy to judge where she could be boxed into one genre, but there's a clear red line on every song in this album, honesty. Nova wrote songs while she absorbs the moment around her in a hope this could resonate to the deepest heard of her listeners with simple technique and music skills.

She write in various languages, in Bahasa Indonesia, English and Javanese. Singing songs like Wong Kang Murka and Macapat Pangkur is her way to pray in her most favorite way. Nova grew up learning javanese pentatonic scale and just realized the beauty of it after her long musical journey.

Recently, she made a firm choice to back home in her full consciousness. She felt the urgency of ecological conflicts and climate chance that she wants to hold as much as story telling concert and create a direct communication with her audience.

Songs: Hidupiduniaku, Burung, Plong, Wong Kang Murka, Liminalitas, Kalamakara, Fenomena Surga, Di Antara Perbatasan, Debu Jalanan, and Macapat Pangkur

Credits:

  • Photo by: Dalem Wangi Artspace
  • Writing by: Ismail Surendra